Bingkai Kehidupan

Jihad sepanjang zaman

Mengarungi samudra kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa tuk berpangku tangan
-
Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka dijalan Allah
kan menjadi saksi pengorbanan
-
Allah ghayatuna
ArRasul Qudwatuna
AlQuran dusturuna
AlJihadu sabiluna
Almautu fi sabilillah asma amanina
-
Allah adalah tujuan kami
Rasulullah tauladan kami
AlQuran pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi

 

Dua Telinga Satu Mulut

Pernahkah kita berpikir  “Kenapa Tuhan Menciptakan Dua Telinga dan Satu Mulut ?

ini telah disebutkan oleh : Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, beliau  berkata :
“Tunaikanlah hak kedua telingamu daripada hak mulutmu. Karena dijadikan untukmu dua telinga dan satu mulut agar engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara…”
=========================================

Bagaimana Jadi Pendengar yang baik  ?

  • Mendengar lebih dari sekedar menunggu giliran berbicara.
  • Lebih dari mendengar kata-kata.
  • Mendengar sungguh-sungguh dengan mulut terkatup berarti menerima dan mencerna berita seperti ketika kata-kata itu diucapkan – ingin mengerti apa yang sesungguhnya dimaksud orang lain.

mendengarkan sungguh-sungguh dengan mulut terkatup adalah dasar ketrampilan berkomunikasi yang sangat dibutuhkan

 Berhati-hatilah engkau :

bahaya lidah

Apakah aku kaya ?

“Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta,  akan tetapi kekayaan itu adalah rasa cukup yang ada di dalam hati.”   

( HR. Al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

 ============

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata dalam penjelasannya terhadap hadits ini:

Orang yang disifati dengan ghina an-nafs (kekayaan jiwa) adalah orang yang qana’ah terhadap apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala rizkikan kepadanya. Dia tidak tamak untuk menumpuk-numpuk harta tanpa ada kebutuhan. Tidak pula dia meminta-minta kepada manusia dengan mendesak. Dia merasa ridha dengan apa yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya, seakan-akan ia terus-menerus merasa cukup.

 Sedangkan orang yang disifati dengan faqru an-nafs (kefakiran jiwa) adalah kebalikannya. Karena dia tidak qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya. Dia selalu rakus untuk menimbun kekayaan, dari arah mana saja. Kemudian, bila dia tidak mendapatkan apa yang ia cari, ia akan merasa sedih dan menyesal. Seakan-akan dia adalah orang yang tidak memiliki harta. Karena dia tidak merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya, sehingga seakan-akan dia bukan orang yang kaya.”

 (Fathul Bari, 2/277)

Orang Berhasil / Orang Bernilai (Enstaein)

Di sebuah kaki gunung yang gundul dan tandus. Seorang bapak tua memikul sebuah kantung penuh berisi bibit pohon kayu di bahunya, sementara sebuah cangkul berada di bahu yang lain . Sepanjang hari pak tua menggali lobang dan memasukan bibit-bibit pohon tersebut. Begitulah kerja pak tua setiap hari. Ketika malam tiba, ia memetik sayur-sayur yang bertumbuh liar di kaki gunung itu untuk… menjadi santapannya di malam nanti.

Suatu hari sejumlah murid sekolah datang berpiknik di kaki gunung tersebut, dan mereka begitu heran melihat pak tua yang seakan melakukan suatu pekerjaan yang amat tak berarti, karena tempat itu nampak tandus dan tak mungkin bibit-bibit itu akan bertumbuh subur.

“Aku hidup di tempat ini dan aku telah menaburkan jutaan benih pohon kayu. Namun hanya 1 persen saja yang tumbuh. Tapi aku tak akan berputus asa. Di hari tuaku, aku ingin terus menaburkan benih di sini.”

Tahun terus beralih. Anak-anak sekolah tersebut telah bertumbuh dewasa. Ketika mereka datang lagi ke kaki gunung tersebut…WAH…!!! Mereka tercengang dan berdecak kagum. Betapa indah pemandangan di sana yang diwarnai pohon-pohon nan hijau serta merdunya nyanyian burung. Bapak tua sudah lama pergi. Namun ia meninggalkan harta karun tak ternilai.

Pengorbanan kita mungkin tak dapat dinikmati hasilnya saat ini. Namun percayalah, bahwa ada saatnya ketika bibit memunculkan tunasnya.

(Janganlah berusaha menjadi orang yang berhasil, tapi berusahalah menjadi orang yang bernilai. – Einstein)

Never Ever Give Up!

Tahun 1986 di New York diadakan lomba marathon internasional yang diikuti oleh ribuan pelari dari seluruh dunia. Lomba ini mengambil jarak 42 kilometer mengelilingi kota New York. Jutaan orang dari seluruh dunia ikut menonton acara tersebut melalui puluhan televisi yang merelainya secara langsung.

Ada satu orang yang menjadi pusat perhatian di lomba tersebut, yaitu Bob Wieland. Bob adalah seorang veteran perang Amerika, dan dia kehilangan kedua kakinya karena terkena ranjau saat perang di Vietnam. Untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk melemparkan badannya ke depan.

Dan lomba pun dimulailah. Ribuan orang mulai berlari secepat mungkin ke garis finish. Wajah-wajah mereka menunjukkan semangat yang kuat. Para penonton tak henti-hentinya bertepuk tangan untuk terus mendukung para pelari tersebut. 5 kilometer telah berlalu. Beberapa peserta nampak mulai kelelahan dan mulai berjalan kaki. 10 kilometer telah berlalu. Di sini mulai nampak siapa yang mempersiapkan diri dengan baik, dan siapa yang hanya sekedar ikut untuk iseng-2. Beberapa peserta yang nampak kelelahan memutuskan untuk berhenti dan naik ke bis panitia.

Sementara hampir seluruh peserta telah berada di kilometer ke-5 hingga ke-10, Bob Wieland yang berada di urutan paling belakang baru saja menyelesaikan kilometernya yang pertama. Bob berhenti sejenak, membuka kedua sarung tangannya yang sudah koyak, menggantinya dengan yang baru, dan kemudian kembali berlari dengan melempar-lemparkan tubuhnya kedepan dengan kedua tangannya. Ayah Bob yang berada bersama ribuan penonton lainnya tak henti-hentinya berseru “Ayo Bob… Ayo Bob… berlarilah terus”.

Karena keterbatasan fisiknya, Bob hanya mampu berlari sejauh 10 kilometer selama satu hari. Di malam hari, Bob tidur di dalam sleeping bag yang telah disiapkan oleh panitia yang mengikutinya. Akhirnya empat hari telah berlalu, dan kini adalah hari kelima bagi Bob Wieland. Tinggal dua kilometer lagi yang harus ditempuh.

Hingga suatu saat, hanya tinggal 100 meter lagi dari garis finish, Bob jatuh terguling. Fisik Bob benar-benar telah habis saat itu. Bob perlahan-2 bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Nampak disana tangan Bob sudah berdarah-darah. Dokter yang mendampinginya sejenak memeriksanya, dan mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah, bukan karena luka di tangannya saja, namun lebih ke arah kondisi jantung dan pernafasannya.

Sejenak Bob memejamkan mata. Dan di tengah-tengah gemuruh suara penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob dapat mendengar suara ayahnya yang berteriak “Ayo Bob, bangkit! Selesaikan apa yang telah kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu. Lihatlah ke depan, garis finish telah di depan mata. Cepat bangun ! Tunjukkan ke semua orang siapa dirimu, jangan menyerah! Cepat bangkit!!!”

Pelan-pelan Bob mulai membuka matanya kembali. Saat itulah matanya melihat garis finish yang sudah dekat. Semangat mulai membara kembali di dalam dirinya, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat- lompat ke depan.

“Ya, ayo Bob… satu lompatan lagi, Bob… Capailah apa yang kamu inginkan, Bob!” teriak ayahnya yang terus berlari mendampinginya. Dan satu lompatan terakhir dari Bob membuat tubuhnya melampaui garis finish. Saat itu meledaklah gemuruh dari para penonton yang berada di tempat itu.

Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahkan tercatat di Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat yang berhasil menyelesaikan lari marathon.

Beberapa saat kemudian, ketika ada puluhan wartawan yang menemuinya, Bob berkata,

“TIDAK MASALAH ANDA AKAN MENCAPAINYA DALAM BERAPA LAMA, ASAL ANDA TERUS BERLARI. ANDA DISEBUT GAGAL BILA ANDA BERHENTI. JADI, JANGANLAH BERHENTI SEBELUM TUJUAN ANDA TELAH TERCAPAI.”

Layang-Layang

Layang-layang membumbung di angkasa, perlahan layang-layang itu menyadari dirinya terbang semakin tinggi. Ketika ia mengangkat wajahnya menengadah ke langit, ia berteriak gembira; ‘Wuaaoo, langit yang biru. Aku akan terbang tinggi sampai ke ujung sana.’ Namun tiba-tiba ia merasa bahwa perjanannya …kini agak tersendat dan menjadi berat. Ia tidak bisa bergerak lebih tinggi dan tak mampu maju lebih jauh lagi.

Ketika ia menundukkan kepalanya, barulah ia tahu kalau pemiliknya memegang kuat ujung benang. ia merasa benang itulah yang membuatnya tak bisa terbang tinggi lagi . Layang-layang itu menjadi amat marah. ‘Mengapa aku harus terikat .  mengapa aku tak dilepas saja ??   Demikian layang-layang itu berontak.

Tiba-tiba tali benang itupun putus. dan …. ternyata bukan kenikmatanlah yang dia rasakan. sebaliknya, ia kini jungkir balik terbang tak teratur dibawa angin. Angin kencang datang menghempas, dan ia jatuh tersangkut di atas sebatang pohon. Rangka-rangkanya patah. Kertas-kertasnya sobek. Ia kini menjadi seonggok sampah yang tak berbentuk.

====

Pada saat seseorang MELEPASKAN DIRI DARI IKATAN-IKATAN , DAN ATURAN , MERASA DIRINYA HEBAT dan KUAT , saat itulah merupakan awal kehancurannya.

lewat dimana Rahmat Tuhan ?

Sedari pagi hingga malam, orang selalu “berusaha” , untuk apa ?   mencari Rahmat Tuhan katanya , …..  kalau begitu kita perlu tahu, Dari mana datangnya rahmat tuhan ? , dan lewat nya dimana ?.

Sebagai orang beriman, kita tentu sepakat bahwa rahmat tuhan datangnya ya dari Keridhaan Tuhan  ,  ….   bagaimana mendapatkan keridhaan tuhan ?  ….  ya menjalankan perintahNya    dan meninggalkan apa yang dilarangNya ….     sepakat kan ?

Lalu lewat dimana ? karena kita tahu , Rahmat Tuhan tidak jatuh dari langit ,  lalu …..?

Setelah bertanya tanya dan baca baca ,  ternyata Rahmat Tuhan datangnya lewat “Sesama manusia”   ya… lewat orang-orang ,      kalau begitu  untuk mendapakan banyak Rahmat Tuhan , kita harus sebanyak mungkin ketemu dengan orang-orang ,     itulah yang dinamakan ” Perbanyak Silaturahmi “

Rahasia Bentuk Kasih Sayang Tuhan

Ketika seseorang terlepas dari musibah “Pesawat Naas” seketika itu dia berucap syukur “ Yaa Tuhan, sungguh Engkau sangat menyayangi aku “,
…. namun beberapa detik kemudian terbersit pikiran dalam hati, “ Apakah Tuhan tidak menyayangi, mereka-mereka yang jadi korban dalam musibah pesawat itu ? “ …. “tentu, karena Tuhan Maha Penyayang“ …. lalu siapa yang lebih disayangi oleh tuhan, “yang jadi korban atau yang selamat ? “ ….Tuhan pasti akan menjawab pertanyaan itu , tapi yakin bukan seketika itu , karena terburu buru bukanlah sifat Tuhan, pasti Tuhan akan menjawabnya nanti ……
Waktu berlalu , hari , Minggu , berbulan atau bertahun kemudian …. “ Kita akan mendapat jawaban dari Tuhan,
Kita pasti akan menemukan “Bentuk Kasih Sayang Tuhan dalam setiap kejadian …”

Bawalah Kunci Surga

Seorang penjahit tua yang tampaknya menjelang ajal, tangannya menggapai gapai dan mulutnya berbisik lirih , “kunci gurga” , “kunci surga”, berulang ulang begitu …. ,

kerabat kerabat yang mengelilingi kebingungan sambil berusaha menangkap apa maksud ucapan si penjahit tua ini, berbagai macam benda diberikan kepadanya, tapi bukan itu yang dimaksud pak tua,  hingga pada ketika seseorang mengambilkan “Jarum Jahit” milik pak tua dan diberikan kepada pak tua.   pak tua itupun tersenyum , dan berkata untuk yang terakhir kalinya “Inilah kunci surga bagiku”,  

Rupanya Sang penjahit tua, benar benar yakin bahwa pekerjaan yang dilakoninya sehari hari, itulah yang akan mengantarkannya mamasuki surga.

Bagaimana dengan kita , Yakinkah kita bahwa apa yang kita kerjakan sehari hari kita, mampu kita persembahkan kehapapan Tuhan ?,  apakah kita yakin hasil kerja kita mampu menjadi “Kunci Surga ? “.

Untuk menuai kebaikan, tanamlah kebaikan

Seorang petani jagung yang sangat berhasil , dia selalu mendapat hadiah sebagai petani dengan hasil jagung terbaik. ketika ditanya “apa rahasia keberhasilan anda sehingga anda selalu mendapatkan hasil jagung terbaik?.

Dia menjawab , Untuk mendapatkan hasil jagung terbaik, saya selalu membagikan  bibit bibit jagung terbaik kepada tatangga tatangga saya yang juga petani jagung.

Orang yang bertanya heran , kenapa anda mesti membagikan bibit jagung terbaik kepada tatangga anda ? , bukankah mereka itu adalah pesaing pesaing anda ?

Ya , begitulah caranya , bukankah kita tahu, jagung memerlukan penyerbukan silang yang terjadi dengan adanya tiupan angin.   jika tetangga saya menanam bibit yang bagus, maka jagung saya pun akan mendapatkan penyerbukan dari bibit yang bagus .

======

Begitulah Fitrah kehidupan ini :   Untuk dapat menuai kebaikan , haruslah kita menanam kebaikan terlebih dahulu